Saturday, 10 October 2026

Pengalaman Punya Anak Autis

Saturday, 10 October 2026

 Menikah di usia yang nggak muda lagi, dan dikasih bonus akselerasi punya anak jarak dekat dan special needs... harus nangis apa bersyukur ya? Apa aq kaget dengab diagnosa psikolog? Oh tentu tidak..sampai hari ini rasanya aq orang yang paling memahami kondisi anak-anakku.


Lelah? Pasti lelah..aq lelah fisik dan mental. 8 tahun berjalan sendiri. Bertahan di pernikahan ini dengan berdarah-darah sungguh menyakitkan. Anak ke duaku didiagnosa ASD atau Autism Spectrum Disorder alias anak autis dengan penyerta hiperaktif dan mengalami gangguan bahasa. Dia masih belum bisa mengenali nama-nama barang di sekitarnya. Dan belum bisa komunikasi 2 arah. Masih rutin terapi 3x seminggu.


Kadang mentalku down, ketika membersamainya terutama di tempat umum seperti rumah sakit, anakku tidak terlihat seperti anak bego yang plonga plongo, tapi seperti anak nakal yang banyak idenya. Aq harus minta maaf berkali kali untuk tingkahnya yang masyaAllah banget lah.


Aq hanya ingin bilang aq lelah. Aq sedih. Apa aku nggak pantas hidup?

Readmore → Pengalaman Punya Anak Autis

Aku Ingin Mati

Menghilang dari dunia blog dan menutup diri adalah awal dari meledaknya emosiku. Dulu aq sempat merasa... sudahlah..jangan curhat curhat lagi di blog. Gunakan blog untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat saja. Padahal awal tujuanku buat blog, ya untuk menyalurkan emosiku, karena aq termasuk orang introvert, yang susah bercerita secara langsung, aq menganggap blog ini adalah sarana aman, hanya orang-orang yang niat banget...yang bisa menemukan blogku ini

Di usia 30 tahun, 2 september 2018, akhirnya aq memutuskan menikah dengan pria yang aq pikir saat itu adalah pria yang tepat. Ternyata pernikahanku sampai hari ini menjadi satu-satunya penyesalan dalam hidupku. 

Ditipu suami, diselingkuhi berkali-kali, diinjek-injek harga diriku, aq diam. Tapi di tahun ke 8 pernikahan kami, aq udah nggak bisa diam lagi. Aq sudah divonis depresi sejak 3 tahun yang lalu. Sampai hari ini aq masih dibantu obat penenang untuk mengendalikan hormon hormonku biar bisa berfikir jernih dan tidak linglung. 

Setahun lalu..aq sudah sempat dinyatakan pulih, tapi bulan kemaren akhirnya aq menyerah dan butuh bantuan psikiater lagi. Aq udah nggak punya keinginan melanjutkan hidup. Yang dirasakan hanya merasa capek..dan ingin mati saja. Padahal kalau secara logika, anak anakku masih sangat membutuhkanku. Apalagi anak pertamaku ADHD dan anak keduaku autis. 

Sebenernya ketika depresi melanda yang selalu dirasakan ingin menghilang, ingin menyenderi, nggak mau ngrepotin siapapun. Tapi psikiater bilang, cerita itu nggak papa. Coba chatt temenmu, mereka g akan keberatan. Dan hari ini aq mencoba chatt seseorang yang aq anggap teman, tapi ternyata dia keberatan, katanya dia nggak mau jadi tempat sampahku. Sedih? Ya pasti sedih, dikala aq dalam kondisi mental yang ingin hidup aja nggak punya dan dikatain seperti itu...rasanya semakin ngrasa nggak pantas hidup.
Readmore → Aku Ingin Mati
 
Lissa_RHI © 2008. Design by Pocket